Life Excellent

Manajemen Maaf

Setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Namun, tidak semua orang mampu dan mau meminta maaf atas kesalahan yang mengecewakan atau menyakitkan orang lain. Bahkan atas kesalahannya sebagai makhluk terhadap Khaliknya, padahal Allah sebagai Sang Khalik selalu membuka pintu maaf bagi kesalahan sepanjang manusia mau bertaubat.
Setiap insan pasti pernah mengalami perlakuan dan situasi yang mengecewakan atau menyakitkan, namun tidak semua orang mau dan mampu secara tulus memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain. Termasuk melupakan takdir perjalanan hidup yang tidak menggembirakan. Mereka tidak mau memaafkan diri dan menyakini hikmah dibalik takdir Allah Swt dan menerimanya secara ikhlas.
Kita sering mendengar kata “Tiada maaf bagimu!” atau “Tidak rela dunia akherat!” Sikap kaku dan kurang fleksibel seperti itu bertentangan dengan ajaran Islam yang menebarkan semangat kasih sayang. Bahkan dalam perceraian pun, Islam memberikan toleransi sampai tiga kali. Syariat Islam memberikan tengat waktu untuk saling memaafkan dalam masa ‘iddah untuk rujuk. Islam hanya mentolerir kemarahan sampai tiga hari, selebihnya pihak yang tidak mau memaafkan dan tidak menegur, ibadahnya terancam tidak diterima oleh Allah Swt. Rasulullah saw menjanjikan kebaikan bagi yang mendahului memaafkan dengan sabdanya, “…dan pihak yang paling baik adalah yang memulai memberikan salam.” [QS. Al-A’raf: 199].

Belajar Memaafkan
Proses memaafkan memerlukan kerja keras, kemauan kuat dan latihan mental (riyadhatun nafs). Sebab, terkait dengan hati manusia yang begitu fluktuatif, dinamis, dan sangat reaktif terhadap stimulant luar. Hati begitu penuh misteri sehingga oleh Imam al-Ghazali disebut sebagai “Ajaib al-Qulub”.
Betapa banyak tipe kepribadian, aliran pemikiran, gerakan dan komunitas minor yang menjadi menyimpang, ekstrim ataupun ant-sosial akibat dendam dan kekecewaan masa lalu yang tak termaafkan. Al-Ghazali menggambarkan dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin krisis maaf, terutama saat marah dan kecewa sebagai penghancur kehidupan (al-Muhlikat) karena dapat melahirkan berbagai reaksi destruktif.
Seni memaafkan dan kemampuan manajemen maaf membantu mewujudkan hidup yang lebih adil, meminimalisir resiko dan biaya dalam memnghadapi kehidupan. Manajemen maaf merupakan jembatan menuju samudera hidup yang begitu luas, tangga menuju kemuliaan jiwa dan keluhuran citra diri. Manajemen maaf member umat manusia khususnya kaum hawa –yang sering diibaratkan tercipta dari tulang rusuk yang sangat rawan patah-, suatu cairan kimiawi kehidupan yang dapat melenturkannya, sehingga tidak mudah hancur hidupnya dan tidak gampang patah tali persahabatan dan kekeluargaannya.
Dengan penguasaan manajemen maaf, orang paling lemah secara fisik sekalipun, akan menjadi kuat dan tegar, bahkan menjadikan seorang yang papa dan terhina secara materi, sebagai orang terhormat dan berjalan secara tulus dan ikhlas. Nabi saw bersabda: “Tidaklah Allah menambahkan bagi seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan hati (tawadhu’) secara tulus karena Allah kecuali Allah akan mengankat derajatnya” (HR. Al-Bukhari). Sabdanya yang lain: “Bukanlah orang yang kuat itu adalah yang menang dalam perkelahian, melainkan orang yang kuat itu adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah” (HR. Muslim).
Memaafkan mempunyai andil besar dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Kejadian yang dialami Selma (38th) berikut ini, dapat dijadikan suatu pelajaran. Suatu hari Selma yang telah berputera tiga orang ini, berkonsultasi dengan saya. Ia ingin mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya, karena tidak tahan dengan perlakuannya yang suka memukul dan berkata kasar bila sedang marah. Saya memberi pertimbangan tentang dampak buruk dari perceraian terhadap ketiga anaknya, serta mencari jalan keluar kompromi yang terbaik. Saya menganjurkannya untuk bersabar dan mengevaluasi diri, khususnya sikap dan kebiasaan yang mengesalkan suami. Selain itu ia disarankan untuk melakukan dialog intim disamping bersabar dalam memberikan maaf dan toleransi kepada suaminya, tetap menasehatinya pada saat-saat damai untuk mengurangi kebiasaan buruknya yang dapat berdampak fatal pada anak-anaknya. Dalam beberapa minggu, mereka kembali akur dan harmonis sampai lebih dua tahun ini.
Lain halnya dengan legenda Malin Kundang yang berakhir tragis, karena sang Ibu yang telanjur menyumpahi putra satu-satunya yang tidak berbakti. Cerita ini menggambarkan krisis maaf seorang ibu terhadap anggota keluarganya sendiri. Nabi menyayangkan hal demikian: “Janganlah kalian mendoakan yang buruk (menyumpah) terhadap anak-anak kalian”.

Sehat dengan Memaafkan
Betapa banyak orang menderita karena kekecewaan selama puluhan tahun. Sakit hati, kekecewaan, dan dendam akan merampas kebahagiaan seseorang. Semua itu dapat disembuhkan melalui terapi manajemen maaf. Dengan penyembuhan diri (self healing and recovery) dan membantu diri sendiri (self help) melalui terapi psikologis, sebagaimana dipopulerkan psikolog klinik Grant Brecht (1996). Caranya adalah melupakan perlakuan dan hal-hal yang menyakitkan dan membuang jauh-jauh dari pikiran kita.
Penyembuhan sakit hati dan kekecewaan melalui manajemen maaf memerlukan latihan. Lewis B. Smedes (1984) dalam bukunya Forgive & Forget: Healing The Hurt We Don’t Deserve, menyajikan empat tahapan pemberian maaf untuk mencapai klimaks kerukunan kembali, yaitu: membalut luka sakit hati, meredakan kebencian, terapi penyembuhan, dan tahap berjalan dan hidup bersama kembali.
Sakit hati yang kita biarkan, ibarat luka yang kita biarkan dengan hanya mengerang kesakitan tanpa mengobatinya dan lambat laun akan menggerogoti kebahagiaan dan ketentraman batin, bahkan hidup kita. Oleh karena itu, meredakan kebencian dan memadamkan kebencian terhadap seseorang yang menyakiti kita setelah kita balut sakit hati kita ibarat antibiotic untuk mematikan sumber sakit.
Langkah yang kita ambil untuk meredakan kebencian adalah memahami alasan orang lain menyakiti kita, atau mencarikan dalih baginya (iltimas a’dzar) atau introspeksi sehingga kita dapat menerima perlakuan yang menyakitkan tersebut, sebagaimana diajarkan doktrin “ukhuwah”. Penyembuhan memang membutuhkan waktu, tetapi yang lebih penting adalah disiplin dalam menjalani terapi.
Kita dapat bertahan dan awet bergaul dan hidup bersama orang lain kalau memahami prinsip, tidak ada manusia yang sempurna selain Rasul. Belajar menerima secara objektif dan positif itulah kuncinya sehingga kita tidak mudah merusak hubungan, meskipun disakiti sehingga akan meminimalisir angka perceraian atau jumlah musuh. Bukankah satu musuh cukup banyak sedangkan seribu kawan terasa kurang?
Nabi saw bersabda: “Orang yang terbuka bergaul dan menjalin hubungan dengan orang lain dengan bersabar atas perlakuan mereka akan lebih baik daripada yang tertutup dan menyendiri”. Ajaran membudayakan maaf dan toleransi terhadap sikap teman hidup dan pergaulan tercermin dalam sabda Nabi saw: “Janganlah seorang mukmin mengeksploitir kesalahan mukminah teman hidupnya, sebab jika ia tidak berkenan pada suatu perangainya, maka ia menyukai penrangainya yang lain” (HR. Muslim).

Berdamai dengan Diri Sendiri dan Orang Lain
Ketegangan pikiran akibat perlakuan tidak adil harus segera kita ubah dengan berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Kekuatan dan ketegaran hidup bersama akan sirna tanpa adanya ikiran positif. Norman Vincent Peale dalam The Power of Positive Thinking (1996) berkata, “Pikiran yang damai akan menghasilkan kekuatan”. Dengan kekuatan batin dan pengendalian diri ini, kita akan memelihara setiap hubungan, bahkan merawat hidup kita agar tenteram dan bahagia.
Adalah berbeda antara membenci perbuatan yang menyakitkan dengan membenci pelakunya. Sehingga kita dapat menyikap perlakuan yang menyakitkan secara proposional. Artinya, bila memang ada itikad baik dan kemauan untuk berubah, maka kita harus belajar memaafkan dan melupakan sikap masa lalunya dan kembali mencintainya.
Petuah kuno Arab mengajarkan: ”Bencilah seseorang secara proposional, karena suatu hari dapat kau cintai, dan cintailah seseorang secara proposional, karena suatu hari dapat berubah menjadi seseorang yang kau benci”. Itulah salah satu misteri hati yang dalam bahasa Arab disebut qalb karena selau “yataqallab” artinya berubah-ubah. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk bersikap kaku dan keras kepala. Mengendalikan diri dengan baik dan berusaha memaafkan, merupakan indikasi kebaikan yang disebut Al-Qur’an sebagai orang-orang yang baik hati (muhsinin) dan dicintai Allah (QS. Ali Imran: 134).
Memaafkan merupakan revolusi cinta melawan ketidakadilan, melupakan masa lalu yang menyakitkan hati dan membuang pikiran balas dendam. Maaf sebagai proses penyembuhan diri merupakan keajaiban yang tidak banyak diantara kita yang bisa melakukannya dengan mudah. Sehingga memang diperlukan ketelatenan, kesabaran dan cara tersendiri.
Cara memaafkan, menurut Smedes diantaranya dengan proses perlahan tapi pasti, sebagaimana perkataan para ulama, alwaqt juz’un minal ‘ilaj (waktu adalah bagian dari terapi penyembuhan). Cara lain adalah, mengusahakan pengertian tentang kenapa meski terjadi, mengatasi kemarahan yang tersisa untuk perlahan diredakan. Menyimpan dan memanjakan kemarahan yang terus berkobar di dada adalah tindakan bodoh dan menyiksa diri. Dengan memaafkan, hidup akan lebih ringan, adil dan sejuk. Oleh karena itu wasiat Rasulullah yang sering disampaikannya adalah, “La Taghdhab!” artinya: “Jangan Marah!” (HR. Ath-Thabrani).

Agar Mudah Memaafkan
Imam al-Ghazali memberikan kiat agar kita mampu memaafkan adalah melalui terapi ilmiah dan amaliah. Terapi ilmiah melalui enam hal, yaitu: menghayati keutamaan maaf dan menahan amarah, mengingat pembalasan dan kemurkaan Allah di hari kiamat sehinga terdorong untuk memaafkan; agar Allah juga memaafkannya, menimbang kerugian yang ditimbulkan, menjauhkan diri dari kemarahan agar terhindar dari kendali syetan, memikirkan secara rasional alasan untuk tetap marah dan menolak memberi maaf, dan membandingkan kemarahannya dengan kemurkaan Allah; sudah pantaskah ia tetap melampiaskannya ataupun tetap memendamnya. Padahal Allah saja Maha Pengampun?
Terapi amaliah sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw diantaranya, membaca ta’awwudz dan doa penghilang marah, “Allahumma Rabban Nabi Muhammad, ighfirlii dzanbii, wa adzhib ghaidha qalbii wa ajirnii min mudhillatil fitan” (Ya Allah Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah amarah hatiku, dan selamatkanlah aku dari godaan yang menyesatkan), mengubah posisi dan sikap diri dari berdiri menjadi duduk, berwudhu ata mandi, dan shalat, istigfar dan dzikrullah.
Alangkah leganya, hati jika mampu melepaskan beban amarah dan kebencian dengan membuka pintu maaf. Memaafkan perlu diikuti dengan pemulihan hubungan dan melupakan masa lalu, apa yang disebut dalam Al Qur’an sebagai ‘”ash-shafh al-jamil” (QS. Al-Hijr: 85; An-Nuur: 23).
Kemenangan, kesuksesan, keshalihan dan kekuatan kepribadian dapat terlihat dari produktivitas maaf seseorang yang tiada pernah berhenti. Tidak merasa berat, malu dan gengsi untuk memohon maaf dan tidak berat hati menebar maaf waktu sebelum diminta demi menggapai ketenangan hidup (sakinah) di dunia dan akhirat (QS. Asy Syuraa:40-44).
Beruntunglah seseorang yang dijamin Rasulullah masuk surga karena telah berhasil membuang jauh ganjalan hati dan beban kebencian. Tentunya, orang yang paling berhak menerima pemberian maupun permohonan maaf kita adalah orang-orang terdekat kita.
Wallahu A’lam Wa Billahit Taufiq wal Hidayah

Oleh Dr. H. Setiawan Budiutomo

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s