Uncategorized

Andai Petani menjadi PNS

Indonesia pernah menjadi negara agraris. Pada era Soeharto, ada Repelita –Rencana Pembangunan Lima Tahun– dimana sejak awal direncanakan dengan sedemikian rupa agar Indonesia yang terkenal sebagai negara agraris dapat mencapai swasembada pangan. Akhirnya pada Pelita VI (klo engga salah) sesuai dengan rencana yang dijalankan tercapailah Swasembada Pangan. Indonesia tak perlu lagi mengimpor sesuatu untuk menjadi bahan pangan. Karena segala sesuatunya sudah dapat dihasilkan sendiri. Tak perlu lagi import beras, import kedelai, dan sebagainya.

Sekarang?

Kadang ada rasa malu jika harus menjelaskan kepada keponakan2ku yang lucu2, “Indonesia itu penghasil apa Om?” Dengan kecut, aku hanya bisa menjawab dalam hati, “Penghasil tenaga kerja sayang…”

Terpikir olehku, kenapa tanah yang luas ini tak bisa dimaksimalkan?
Begitu banyak tanah terbengkalai, namun tak bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Lalu kuingat saat aku bekerja di Cirebon 2 tahun yang lalu. Dimana siswa-siswaku rata-rata berprofesi sebagai petani. Harga benih yang mahal, harga pupuk yang makin lama makin tak terjangkau, hama tanaman yang kian lama makin garang –macam diimunisasi, sekarang sudah tak mempan diberi pestisida–, banyaknya force majeur yang makin membuat petani makin berat dalam melakukan pekerjaannya. Lalu bagaimana mereka bisa menghasilkan panen yang melimpah, yang bisa membuat Indonesia kembali dihargai sebagai negara agraris. Berat, dan sepertinya tak akan semudah saat dulu itu. Karena saat ini Pemerintah lebih suka membangun infrastruktur untuk industri. Bukan untuk sektor pertanian.

Lalu aku berandai-andai, mungkinkah tanah para petani itu dibeli saja semua oleh negara. Dan para petani dipekerjakan macam PNS, yang diberi gaji, untuk kebutuhan hidup mereka. Sehingga para petani itu tak perlu lagi mengkhawatirkan naiknya harga benih, dan harga pupuk, mereka hanya perlu mendedikasikan diri agar tanaman yang ditanam bisa sehat dan dapat berkembang baik hingga masa panen tiba. Mereka pun tak perlu khawatir lagi dengan harga produk yang dipanen, karena itu bukan lagi tugas mereka.

Dari jendela kereta Fajar Utama Jogja, kulihat sawah-sawah menguning kering, dan beberapa bagian terlihat gosong menghitam, bekas padi dibakar, tanda usai panen. Semoga bisa ditanami kembali.

@KH260812

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s